Kamis, 23 Oktober 2014

Nonton Slank

3 hari atau 72 jam atau 4320 menit atau 259.000 detik yang lalu Bagas ngajakin gw ke Monas liat Pesta Rakyat. Kebetulan banget gw yang liat liputannya di tivi juga tertarik mau kesana. Apalagi Istana Merdeka lagi dibuka buat umum, kapan lagi bisa kesana kata gw dalam hati. Satu lagi yang bikin gw tertarik banget gara-gara bakal ada pelepasan lampion, kan keren buat foto-foto.

Oke, itu semua ekspektasi yang udah di kepala gw sebelum gw berangkat. Realitanya, gw sama Bagas baru nyampe disana jam setengah 7. Kita makan dulu di dekat Stasiun Juanda sampai jam 7, which is kita melewatkan guling-guling di rumput istana dan pelepasan lampion. Ya sudahlah, yang "penting gw nonton Slank" kata Bagas. Gw yang sebelumnya belum pernah nonton Slank secara langsung mau enggak mau juga ikutan. Abis mau ngapain lagi, udah terlanjur nyampe sono juga.

Selagi ngantri masuk monas yang antrian orangnya naudzubillah hampir setengah kilo. Bagas terus menghubungi Zikri sama Kaspo yang katanya udah di dalam Monas. Waktu lagi ngantri, Arkarna lewat di depan mata kita sambil dikawal sama polisi-polisi yang tingginya sama kayak mereka. Mungkin cuma gw yang ngeh pada saat itu.

Setelah masuk Monas, praktis Zikri sama Kaspo udah enggak bisa dihubungi lagi. Kita berdua langsung mendekati area panggung utama yang udah dipadati ribuan orang. Belum masuk ke tengah-tengah kerumunan, kita ngambil foto-foto dulu buat dokumentasi aja. Selesai foto, kita mulai menyelip sampai dapat posisi yang menghadap langsung ke depan panggung. Penuh perjuangan buat nyelip di lautan manusia malam itu. Apalagi Bagas yang badannya cukup lebar, perlu usaha ekstra.

Di tengah perjuangan yang terus berlangsung. Sekitar beberapa meter dari arah kita, mata gw tiba-tiba tertuju sama seorang laki-laki kurus yang terlihat dari celah-celah keramaian yang menutupi pandangan gw. Saat itu langkah kita terhenti karena saking padatnya. Gw menoleh ke arah Bagas, "Bro, ada Kaspo" teriak gw ke arah Bagas. Gw langsung menoleh kembali ke arah dimana Kaspo berada. Tanpa ragu gw berteriak "KASPOOO..." sambil melambaikan tangan. Kaspo yang mendengar teriakan gw langsung tersenyum sambil melambai balik.

Mungkin orang-orang di sekitar ada yang ikutan terharu ngeliat gw teriak begitu semangat waktu ngeliat Kaspo. Kemudian memberi jalan yang akhirnya mempertemukan kami bertiga. Enggak ada salah seorang pun dari kami yang menyangka bakalan ketemu di tengah lautan manusia malam itu.

Salam Slankers dari Kaspo.

Zikri yang paling sering kita hubungi nyata-nyatanya enggak ketemu-ketemu. Sudahlah, mungkin udah takdir kita malam itu. Gw pun kembali mengajak mereka berdua bergerak sampai ke tengah panggung, karena posisi kita waktu itu masih agak di pinggir. Sampai akhirnya setelah beberapa kali kita bermigrasi, kita dapat posisi yang pas buat nungguin penampilannya Slank.

Gw yang baru sekali ini nonton Slank, ngerasain atmosfer yang beda sama konser-konser lain yang gw pernah saksikan. Apalagi kalo bukan gara-gara para Slankers. Mereka enggak cuma datang dari Jakarta, tapi juga datang dari berbagai daerah. Dari pihak panitia, baik itu MC, Polisi sampai Para Penampil sendiri juga kewalahan menertibkan para Slankers yang enggak mau menurunkan bendera kebanggaan mereka yang menghalangi kamera yang akan menyorot panggung, dan tentunya juga para penonton yang lain.

Saking banyaknya, enggak kehitung ada berapa bendera.

Sekitar jam 10 setelah penampilan dari Arkarna. Akhirnya yang ditunggu-tunggu muncul juga. Slank menghibur semua yang ada malam itu. Bendera Slank yang berkibar juga makin banyak. Enggak peduli sama hal itu, kita bertiga goyang terus.

Waktu Slank menyanyikan satu lagu sebelum lagu terakhir ada kejadian menarik. Kala itu kita yang sedang asik goyang tiba-tiba kedorong ke belakang gara-gara orang-orang yang di depan kita banyak yang tiba-tiba mundur. Gw sempat jatuh dan untungnya langsung cepat berdiri. Kerumunan di depan gw yang awalnya padat berubah jadi renggang. Jadi kita bisa ngeliat jelas ada satu orang yang lagi di gebukin rame-rame. Sejenak, semua yang ada di dekat kejadian berhenti bergoyang. Ada yang gebukin pake balok kayu, ada yang pake besi sambungan roda tamiya, kalo gw enggak salah liat. Kebanyakan sih pake tangan kosong. Kita cuma nontonin aja.

Untung kejadiannya enggak terlalu lama. Cowok yang tadinya digebukin berhasil dibawa kepinggir sebelum 'die' sama cowok yang kayaknya temannya. Serem men, gw langsung ngebayangin kalo gw yang digebukin kayak begitu. Bagas sama Kaspo kira-kira nolongin gw enggak ya.

Sabtu, 18 Oktober 2014

Manjat Pagar Rumah Juga

Gw officially orang kedua yang manjat pagar rumah setelah Reza, cerita pertama baca disini. Gw juga sempat freeze beberapa detik nahan sakit gara-gara lompat dari pohon yang kira-kira tingginya 2 meter sambil tengkurap. Rasanya sakit banget di bagian selangkangan.

Jadi ceritanya, gw mau bentaran doang ke kampus copy filem dari Drajat. Perkiraan gw sih enggak bakalan lama, paling jam 9an balik. Jadi sengaja kunci pagar enggak gw bawa. Tapi prediksinya, gw malah nongkrong disana sampai jam 2 pagi lewat. Untungnya tadi Techa delivery pizza, itung-itung traktiran ulang tahun. Maafin gw norak, tapi sumpah, itu pizza terenak yang pernah gw makan sampai detik ini.

Kamis, 16 Oktober 2014

Makan Mie Enggak Pake Nasi

Setiap orang pasti punya perubahan dalam hidupnya. Sekecil apa pun itu, pasti ada. Apalagi semakin bertambahnya umur, semakin banyak hal yang kita sadari perlu untuk diubah. Sayangnya perubahan itu enggak selalu bagus, ada juga perubahan perubahan yang membuat seseorang semakin buruk. Misalnya orang yang umurnya udah 30 tahunan tiba-tiba memutuskan buat ngerokok, kan sayang banget.

Okay, gw sendiri dari kecil punya kebiasaan yang sebenarnya dilakukan juga sama banyak orang. Kebiasaan gw dari kecil yang baru tahun ini bisa gw ubah itu makan mie tanpa nasi. Perubahan tersebut enggak secara drastis gw lakukan. Awalnya karena enggak sengaja baca-baca artikel tentang kesehatan gitu, terus ditambah omongan-omongan teman yang bilang enggak baik kalo makan mie pake nasi.

Lama-kelamaan gw mulai merubah kebiasaan ini. Tahap demi tahap gw lakukan sampai sekarang kebiasaan tersebut benar-benar berubah. Cara yang gw lakukan adalah mengurangi jumlah porsi nasi setiap kali makan mie. Kadang-kadang gw makan mie sama gulai yang udah dimasak sama ibu ketiga. Hasilnya, sejak tahun ini gw enggak pernah lagi makan mie pake nasi.