Minggu, 01 Mei 2016

Jalur Protokol #1

Walaupun udah ngeband bareng sejak 2011, tapi barulah di awal Agustus 2015 kami (Affin, Rizky, Gue) sepakat membentuk band. Berawal dari inisiatif seorang Rizky, gue yang dari dulu pengen punya band tetap, sepakat membentuk band ini yang kemudian akhirnya diikuti juga sama Affin. 

Rizky yang kebetulan punya banyak lagu mulai sering latihan ke tempat gue. Semenjak itu gue juga mulai belajar bikin lagu. Affin lebih gokil lagi, sebelum kita betul-betul sepakat bikin band, kita udah dua kali rekaman lagunya Affin di tahun 2011 sama 2015.

Ide pakai nama Jalur Protokol (JP) sendiri datang dari Rizky yang sampai sekarang gue belum tahu filosofinya. Beruntung ada Affin yang mengartikan kalo JP punya filosofi yang mendalam banget, bukan hanya soal cinta antar kekasih atau asmara semata, tapi JP itu dinamai dari sejarah pejuang-pejuang yang cinta Indonesia. Entah wangsit darimana sampai Affin bisa mengartikannya seperti itu. 

Jalur Protokol akhirnya resmi terbentuk, dan Rama menjadi nama terakhir yang mengisi posisi bassist. Doi tidak lain tidak bukan adalah teman Rizky semenjak SMP, mereka dulu pernah satu band. Nah, setelah setelah 9 bulan berdiri, akhirnya single dari Jalur Protokol lahir juga. Dengan nuansa alternatif, kami coba tuangkan kesenangan dan keinginan kami untuk berkarya di jalur musik. Kalian bisa dengar singlenya di souncloud kami Jalur Protokol, enjoy.

Selasa, 12 April 2016

Ketidaknyamanan

Mari kita mengucapkan Basmallah terlebih dahulu sebelum membaca..

Hari ini gue mau curhat soal ketidaknyamanan gue sama tukang parkir dan polisi cepek yang semakin banyak di Jakarta. Mungkin karena lebih banyak pengalaman yang tidak mengenakan sama mereka, jadi gue agak enggak respect sama profesi mereka.

Kalo kalian pernah baca posting-posting gue sebelumnya, gue juga pernah nulis soal tukang parkir. Tapi itu cuma segelintir dari beberapa pengalaman tidak menyenangkan sama mereka.

Dari sejarah-sejarah yang gue baca di internet, enggak gue temukan gimana asal muasal yang pasti soal profesi tukang parkir sama polisi cepek bisa exist sampai sekarang ini.

Yang gue sorot disini tukang parkir yang suka memanfaatkan tempat-tempat yang sebenarnya enggak butuh-butuh amat keberadaan mereka. Sorry banget kalo gue ngaco, gue bahkan belum punya indikator buat tempat-tempat yang dimaksud. Sederhananya begini, kalo kalian sependapat sama gue, kalian meng-iya-kan dalam hati yang gue maksud, kalo enggak ya mau gimana lagi.

Sementara pengalaman enggak mengenakan sama polisi cepek banyakan dari mulutnya yang suka ngomel-ngomel kalo enggak dikasih. Pengalaman paling enggak mengenakan, gue pernah dibantuin sama polisi cepek, saat itu gue bener-bener enggak ada uang kertas pecahan seribu/dua ribu. Yang ada cuma pecahan koin 200 yang nominalnya seribu.

Cuma karena pecahan 200, jadi kayak 5 koin yang enggak berarti buat mereka. Abis mau gimana lagi, masa gue minta kembalian waktu lagi diseberangin. Sebenarnya nominal seribu juga udah lumayan kan. Waktu dikasih, yang ada mereka lempar koin-koinnya ke mobil gue.

Gue kesal dong digituin. Mereka enggak tahu apa enggak mau tahu. Namanya polisi cepek, ini gue kasih seribu yang 10 kali lipat cepek malah ngelunjak.

Gue akhirnya memilih enggak mau ambil pusing, mungkin doi enggak bakalan begitu kalo pas gue kasih gue bilang lagi enggak ada uang. Tapi masa gue (kita) sih yang mesti enggak enakan di jalanan umum???

Senin, 04 April 2016

Pohon Rubuh

Akhirnya ketakutan gue selama ini terjadi. Pohon tetangga gue rubuh Sabtu siang kemarin. Untung enggak ada korban jiwa, meskipun sempat bikin macet jalanan di depan rumah.

video
Enggak ada angin enggak ada hujan.