Minggu, 17 Mei 2015

Menyesal

Akhir-akhir ini gw mulai membaca tetralogi Pramoedya. Sebenarnya ke empat buku ini udah gw miliki dari tahun  2013 yang lalu. Tapi gw tertarik baca ketika Rizky minjem bukunya dan gw mulai ikut-ikutan baca.

Tertarik, karena setelah baca ceritanya memang bagus. Walaupun diawal-awal gw sempat kesulitan memahami setting yang sedang di bangun oleh penulis. Tapi setelah masuk ke ke dalam situasi dimana tokoh utama, Minke bertemu dengan Annelies, gw mulai bisa mengikuti ceritanya.

Dan disinilah gw mulai membayangkan gambaran ceritanya di otak gw. Bagaimana rupa-rupa para tokoh yang ada di dalam roman ini. Mulai dari Minke yang awalnya gw bayangkan seorang Nicholas Saputra, lalu Annelies seorang Chelsea Islan, Nyai Ontosoroh seorang Dian Sastro.

Lalu gw revisi jadi Abimana, Chelsea sama Happy Salma. Itu karena gw lupa seorang Minke asli Pribumi, sedangkan Nicholas mukanya agak-agak bule gitu. Dian Sastro jadi ibunya Annelies kayaknya juga terlalu keliatan kayak adek kakak. Dan revisi terakhir gw, Abimana gw ganti jadi Vino G Bastian.

Semenjak soal "Annelies" ini entah gw jadi suka lagi sama Chelsea Islan. Wajahnya selalu terbayang-bayang setiap gw lagi atau habis baca. Maka semenjak saat ini gw putuskan kembali ngefans sama Chelsea. Apa yang sudah terjadi sebelumnya gw khilaf. Love You Chelsea, from the bottom of my heart.

















PS : Semua foto dari instagramnya Chelsea.

Kamis, 14 Mei 2015

Pelabuhan Terakhir

Minggu kemaren atau tepatnya hari Jumat. Yuriko ngajakin gw nonton Euro on Screen. Setelah diskusi, tempat yang kita pilih untuk di datangi jatuh ke IFI (Institut Francais d'Indonesie). Letaknya dekat sama Mall Sarinah.

Rute yang kita pakai juga atas usulnya Yuriko. Kita ketemuan di kereta jurusan Jakarta Kota gerbong ke 4. Kereta yang kita naiki siang itu agak cukup berbeda dibanding biasanya. Ada beberapa monitor yang menyajikan informasi dan hiburan.

Jadi enggak bosen di dalam kereta.
Lambat laun penumpang yang ada di dalam kereta berkurang. Gw jadi bisa duduk dan ngeliatin Yuriko yang bikin gw nahan ketawa.

Kayak lagi nemenin anak SD jalan-jalan.
Kita turun di Stasiun Juanda dan lanjut dengan naik City Tour Bus, gw singkat jadi ctb. Ini jadi pengalaman pertama gw naik ctb, kalo Yuriko udah pernah sebelumnya. Kita sampai lari-lari karena takut ketinggalan ctb yang lagi nungguin penumpang.

Buat yang mau jalan-jalan gratis ngeliat Kota Jakarta ctb bisa banget jadi alternatif transportasi. Siang itu ctb yang kita tumpangi enggak terlalu ramai. Makin semangat karena waktu di perjalanan ada lagunya Dewa.

video
Dua Sedjoli.

Perjalanan cukup menyenangkan siang itu, suasana bus nyaman, Jakarta juga enggak terlalu macet. Waktu lewat Kantor Gubernur, gw berujar "mantap nih kerja Ahok".

Sampai di depan Sarinah, kita turun dan melihat Ardi yang sudah menunggu kita daritadi sepertinya. Buat yang enggak kenal Ardi, dia junior gw juga. Satu angkatan sama Yuriko, kita nonton bertiga jadinya.

Karena telat beberapa belas menit, masuk IFI kita langsung isi daftar tamu dan masuk ke dalam tempat pemutaran filem. Filem pertama judulnya Night Will Fall, filem dokumenter soal korban-korban Nazi yang dokumen-dokumennya terkelola dengan baik menurut gw. Abis nonton filem itu gw jadi tertarik pengen lihat video-video dokumenter zaman penjajahan, orba sama reformasi.

Selagi menunggu filem kedua, kita duduk diluar. Lalu seseorang nenek keturunan Eropa yang sudah dari tahun 1958 tinggal di Indonesia menghampiri gw. Dia mengajak gw berbincang tentang banyak hal yang gw sendiri kewalahan meladeninya.

Itu orangnya yang di atas kursi roda.
Setelah dia pergi, Yuriko sama Ardi menghampiri gw. Kita menyepakati abis nonton filem yang kedua kita pulang. Filem yang kedua judulnya The Guide, filem asal Ukraina ini lebih menarik dibanding filem yang pertama menurut gw, karena memang kemasannya seperti filem pada umumnya. Semua orang buta yang ada di dalam filem itu juga betul-betul buta. Akting mereka keren.

Selepas itu kita makan dulu sebelum benar-benar balik ke tempat masing-masing. Gw pun menggoda kedua junior gw ini makan junk food. Mereka pun ternyata tertarik sama tawaran gw, Burger King jadi pelabuhan terakhir malam itu.