Jumat, 03 Februari 2017

Jangan Minum Coca Cola

10 hari sebelum tahun baru, kita ada futsalan bareng orang-orang kantor. Ini futsal pertama sejak gue ngantor. Jadualnya kita main jam empat. Lokasinya juga enggak jauh dari kantor. Lari dikit 5 menit juga nyampe.

Udah nyampe disana, ada rombongan bule yang kayaknya kurang orang ngajakin kita sparing. Karena kita orangnya lumayan banyak, kita gabung main sama mereka. Dan inilah yang bikin gue dapat cedera.

Taken by Mr. Anggian.

Badan mereka gede-gede banget. Belum lima menit, gue udah di body dan jatuh merosot. Bagian lutut gue ngesot di lapangan rumput sintesis. Perihnya bukan main. Dua jam kita main sparing lawan mereka.

Awalnya kita kebobolan terus, maklum team kita belum nyatu. Baru sekali ini main sama orang-orang kantor. Ganti sana ganti sini, lama-lama kita dapat juga dream team nya. Akhirnya gantian kita yang jebol gawang mereka terus.

Selesai main bareng mereka. Rasanya masih kurang main dua jam. Om kita minta tambah satu jam lagi. Jadilah kita main tiga jam sore itu setelah enggak pernah lagi main futsal selama 3 bulan ini. Dan selama 3 jam pula gue menahan perih.

Muka bangga dapat cedera.

Udah dua hari semenjak gue dapat luka dari cedera ini. Lukanya enggak kering-kering, baik bentuk maupun kondisinya juga makin ganggu aktivitas. Shalat pun gue lakukan dengan duduk. Kulit lututnya kayak mau robek kalo gue paksain ditekuk.

Gue putuskan nanya sepupu gue yang dokter. Abis dia lihat fotonya, dia bilang lukanya enggak boleh kena air dulu. Salahnya gue, lukanya gue biarin basah tiap kali mandi. Dia juga suruh gue minum obat biar bantu cepat kering.

Foto yang gue kirim ke sepupu.

4 hari sebelum tahun baru. Ada Mama sama adek-adek gue nginep. Mereka enggak tahu soal lukanya. Kamis sore kita makan diluar. Jumat sore juga makan bareng lagi diluar, tapi lanjut belanja. Waktu belanja gue ambil 2 botol coca cola ukuran 1,5 liter buat persiapan tahun baru.

"Kakak, janganlah minum itu! enggak bagus kak".
"Bukan buat kakak, Ma, buat temen-temen kakak".
"Iya, tapi kakak jangan sampai minum ya!"
"Iya, Ma"
"Biar temen-temen kakak aja yang minum"

Begitulah rasa sayang seorang Mama kepada anaknya.

Ada Bagas, Didi, Drajat, Pak Ishak sama Baba yang masih otw.

Sepanjang malam kita habiskan main PS di teras belakang. Yang paling seru main bola pake empat controller. Kalo dapat satu team sama Drajat, siap-siap elus dada.

Taken by Mr. Yovie.

Letusan kembang api terus bersahut-sahutan walaupun tahun baru belum datang. Sampai jam 00.00, Drajat naik ke tempat jemuran di lantai atas, gue ikutin doi. Terus satu-satu mulai naik ke atas.

Drajat sibuk ngambil video kembang api.

Kamis, 08 Desember 2016

Kaleidoskop 2016

Banyak banget kejadian yang gue alami selama setahun kebelakang, mulai dari yang bahagia sampai yang sedih. Tahun ini akhirnya gue benar-benar resmi lulus kuliah. Perjalanan panjang selama 7 tahun akhirnya berakhir juga. Ceritanya juga udah gue tulis sebelumnya, kalian bisa baca disini bagaimana euphoria ketika gue wisuda.

Namun sebelum euphoria itu terjadi, gue bersedih karena motor gue dicuri. Satria F 150 yang sangat gue sayang dan cintai kini tiada lagi menemani hari-hari. Ini terjadi sekitar pertengahan Agustus ketika Mama, Papa dan Datuk mau berangkat haji.

Gue sengaja enggak memberitahukan mereka soal ini dengan alasan, biar mereka fokus dalam menjalankan ibadah. Gue enggak pengen pikiran mereka terganggu dan terbebani ketika meninggalkan kami.

Ini disadari ketika ibu ketiga membangunkan gue pagi-pagi. Dia bilang motor gue enggak ada. Kecurigaannya waktu ngeliat gembok enggak ada, tapi kuncinya masih tergantung. Biasanya gue kalo keluar buat joging pagi-pagi, pagar selalu gue gembok lagi dan bawa kunci sendiri. Terus sendal sama helem gue masih ada.

Gue liat posisi Satria memang terlihat langsung dari arah luar. Biasanya setiap kali Satria terparkir di depan garasi, selalu ada mobil yang menghalangi sehingga tidak kelihatan dari luar. Malam itu waktu gue baru balik, masih ada mobil om gue yang terparkir menutupi Satria, tapi kata ibu pas tengah malam om gue cabut dari rumah.

Dolly juga mendapati gembok yang dirusak dipojokan gerbang. Melihat kondisi ini, gue juga enggak menyalahkan siapa-siapa. Gue langsung aja pasrah saat itu, tapi dalam hati jujur sedih banget. Apalagi setiap melihat Satria lain di jalanan, gue langsung ingat sama dia. Cukup lama sampai rasa sedih ini betul-betul hilang.

Momen terakhir kebersamaan kita adalah ketika gue beli kursi roda buat nenek di Pasar Rumput. Siang itu langit sudah mulai gelap, entah kenapa gue pengen banget perginya pake motor. Mungkin beberapa hal yang nampaknya enggak bisa dilakukan sudah banyak gue lakukan dengan Satria. Jadi sekedar beli kursi roda doang bisa lah.

Di tengah perjalanan sebelum sampai simpang pancoran. Hujan turun sangat deras, gue meneduh di SPBU karena enggak bawa jas hujan. Dua jam lebih gue tungguin enggak reda-reda juga hujannya. Karena udah bosen banget, gue putuskan gue terobos aja nih hujan, tak apalah basah kuyup. Yang penting handphone sama dompet aja yang enggak basah.

Untuk itu, gue perlu kantong plastik. Gue korek-korek kotak sampah yang ada disana, tapi sayangnya enggak nemu. Pikir-pikir lagi, untuk sementara handphone sama dompet gue selipin di bagian terdalam tas dulu.

Lewat perempatan pancoran, gue mampir beli plastik di warung kaki lima. Waktu bayar, mbaknya enggak ada kembalian, ya udah gue beli roti dua ribuan buat sekalian ganjelan makan siang. Rotinya gue makan pas udah nyampe disana.

Niat awal gue sebenarnya mau cari di Pasar Pramuka, tapi semua itu berubah ketika gue berteduh di SPBU tadi, baru ingat kalo deketan Pasar Rumput.

Dan tibalah gue di Pasar Rumput. Kursi roda yang dipesan nenek ini mesti ada tempat untuk BAB/BAK sama bisa dipake buat tidur. Toko pertama yang gue tanyain jadi satu-satunya toko yang gue datangi disana.

Dalam keadaan basah kuyup, bapaknya yang ngajarin masang sampai ngelepas lagi kursi rodanya. lumayan gampang ternyata. Begitupun dengan membawanya yang kata bapaknya bisa diikat di atas motor.

Gue yang daritadi lumayan kebelet cari toilet. Satu-satunya toilet terdekat disana lagi dipakai sama orang buat cuci baju. Bapak yang kerja disana mengarahkan gue untuk pipis aja di sebelah tokonya which is pinggir jalan.

Gue lebih memilih pipis di SPBU yang ada di Jalan Minangkabau, agak lumayan kalo jalan dari toko. Walaupun gue bisa aja pipis di celana tanpa ada yang tahu. Celana juga udah basah kuyup, tapi dipikir-pikir lagi, kasihan Satria kalo gue melakukan itu.

Dolly sedang membuka bungkus kursi roda dari atas Satria.
Foto terakhirnya.

Tepat sehari setelah ulang tahun, gue kembali mengalami tragedi. Malam itu gue di jalan mau balik ke rumah sehabis makan sama adek. Kejadiannya begitu cepat. Di tikungan depan BPS Jakarta Selatan. Terdengar suara keras dari sebelah kanan. Ada sesuatu yang menyenggol spion gue hingga pecah.

Seketika gue hentikan laju. Apa yang gue lihat adalah ban depan mobil pecah. Di arah belakang, satu unit sepeda motor dan pengendaranya tergeletak, korbannya laki-laki. Jantung ini pun langsung berdegup kencang.

Gue yang mau keluar dari mobil, tapi pintunya agak keras untuk dibuka. Ada bagian bodi mobil yang penyok sehingga membuat pintu enggak bisa kebuka. Perlu dorongan lebih biar bisa kebuka dan muat untuk keluar. Niat gue mau langsung nyamperin si korban, tapi warga-warga minta untuk pinggirin mobil dulu.

Semakin banyak orang yang mengerebungi, gue berusaha untuk tetap tenang. Mencari tahu apakah kondisi korban parah atau tidak. Korban meringis kesakitan di bagian bahu. Beberapa orang mencoba menanyakan keluarganya yang bisa dihubungi. Beruntung keluarganya bisa dihubungi.

Gue hanya duduk di sebelahnya sambil memegang tangannya. Usul dari beberapa orang adalah langsung membawa korban ke rumah sakit. Awalnya korban menolak, tapi setelah beberapa kali ditolak dan menanyakan keluarganya yang masih di jalan menuju TKP Keluarganya setuju untuk dibawa ke rumah sakit.

Korban langsung kita bawa ke rumah sakit dengan angkot. Mobil sementara gue tinggal di tempat sampai urusan dengan korban selesai.

Tiba di rumah sakit pertama, disana tidak ada pelayanan untuk rontgen. Kami pindah ke rumah sakit kedua. Di rumah sakit ini gue mulai menjelaskan kronologi kejadian kepada dokter dan keluarganya. Untuk memastikan kondisi korban, malam itu langsung dilakukan rontgen. Hasilnya tulang bahu sebelah kanan korban patah.

Rembukan awal keluarga mereka adalah dirujuk ke tukang urut di fatmawati. Namun keputusan itu masih menunggu kakak dari ibu korban yang masih di perjalanan. Sambil menunggu, gue dipanggil paman korban. Intinya mereka ingin menempuh jalur damai. Apalagi mendengar korban juga sudah yatim dan berprestasi di sekolahnya. Gue juga menyatakan bersedia untuk bertanggung jawab.

Kakak dari ibu korban tiba juga di rumah sakit. Dokter kembali menjelaskan cedera yang dialami korban. Setelah mendengar penjelasan dokter, dia nampak terlihat mikir-mikir. Tak lama kemudian dia menatap gue dan menanyakan apakah gue bersedia apabila dilakukan operasi.

"Baik pak, enggak apa-apa. Yang penting dianya cepat sembuh" kira-kira seperti itu jawaban gue. Operasi pun langsung dijadualkan sore nanti.

Waktu juga sudah hampir menunjukan jam 3 pagi. Urusan di rumah sakit pun baru selesai. Gue dianter lagi sama keluarga korban ambil mobil sekalian ganti ban serap.

Gue tunggu sampai subuh baru gue bisa sedikit istirahat. Jam 8 an gue telpon mama dan ceritain semua. Mama langsung suruh gue urus semuanya. Kebetulan sorenya dia juga ke Jakarta. Dia bilang sekalian mau besuk korban.

Pagi itu gue ke rumah sakit melihat kondisi korban. Gue memastikan kembali untuk operasi sore nanti dari pihak rumah sakit. Disaat itu papa telpon, dia minta dihubungkan dengan keluarga korban. Gue kasih ke ibunya.

Setelah itu kita ngobrol lagi. Papa minta gue untuk tenang dalam menghadapi musibah ini. Namun kata-katanya malah bikin mata ini berkaca-kaca, pusing kepala gue menahan air mata.

Abis telponan, gue pamit karena mau ke bandara jemput mama. Gue juga minta dikabarin terus sama soal kabar operasi.

Gue kabar-kabaran via telpon dan whatsapp dengan kakak ipar korban. Operasi yang dijadualkan sore, tertunda sampai malam dikarenakan dokternya baru datang. Entah karena menangani operasi di tempat lain atau memang terlambat. Keluarga pun sempat marah-marah dengan pihak rumah sakit karena penundaan tersebut.

Beruntungnya operasi berjalan lancar. Rencana kita yang mau ke rumah sakit malam itu dibatalin karena masih kejebak macet.

Besok siangnya kita ke rumah sakit. Setelah bertemu dan berbincang. Kedua keluarga yakin, Segala musibah yang telah terjadi selalu ada hikmahnya. Dari sana terjalin lah silaturahmi antara keluarga kami.

Setelah maghrib kita mengantarkan korban ke rumahnya. Di rumahnya sudah berkumpul anggota keluarga lain yang menyambut kami. Korban langsung rebahan di ruangan keluarga yang memang sudah disiapin. Teman-teman korban yang semuanya adik kelas perempuan datang menjenguk.

Kerabat-kerabat korban yang juga tinggal di satu lingkungan menambah ramai suasana. Kejadian ini sudah membuat kita menambah keluarga kata mama. Dari pihak mereka pun berpesan untuk tidak sungkan kalo mau main ke tempat mereka.

Hubungan kami pun Alhamdulillah baik sampai saat ini. Kakak ipar korban sering menanyakan kabar dan menyampaikan salam dari keluarga.

Namun gara-gara kecelakaan ini, acara liburan ke Bali bareng anak-anak terpaksa gue lewatkan. Bukan cuma itu, selesai urusan kecelakaan. Ibu ketiga di satu pagi menghampiri dan ngobrol sama gue. Sambil berkaca-kaca matanya, dia kasih tahu kalo dalam waktu dekat dia mau pulang ke Bogor dan tidak kerja sama kita lagi.

Cukup kaget kabar yang gue terima pagi itu. Gue langsung kasih tahu Dolly yang ternyata udah dikasih tahu sebelumnya. Kita bicarakan masalah ini supaya dapat solusinya. Namun, kita udah enggak bisa ngapa-ngapain buat nahan ibu ketiga. Beberapa hari itu, mereka sekeluarga pulang ke Bogor.

Tinggal gue sama Dolly dan om yang jarang pulang ke rumah. Sekarang kami berdua harus ngerjain semuanya sendiri. Mulai dari cuci piring, cuci baju sampai gosok. Cuma nyapu rumah yang enggak pernah kita lakukan.

Kalo nyapu halaman biasanya gue kerjakan di akhir pekan. Setiap habis nyapu halaman, badan pasti bentol-bentol digigit nyamuk. Bangkai tikus juga dimana-mana, menyebarkan wangi semerbak yang menusuk hidung. Ini akibar ulah para kucing yang mengganas karena udah jarang dapat sisa makanan dari kita.

Dan hal yang paling kami khawatirkan sebenarnya adalah masalah keamanan. Dimana setiap hari kami harus pulang sore, terkadang sampai larut malam. Ketika kami pulang, rumah dalam keadaan gelap gulita. Perasaan ini jadi tidak tenang rasanya setiap kali meninggalkan rumah.

Om kita juga bukan tanpa usaha, berusaha kembali membujuk ibu ketiga beserta keluarga untuk kembali bekerja di rumah. Namun keputusan mereka nampaknya sudah betul-betul bulat.

Di suatu pagi kami bertiga berkumpul. Sepertinya ada hal yang mau dibicarakan sama om. Dolly yang nampak mondar-mandir, diminta untuk duduk sebentar mendengar apa yang mau disampaikannya.

Gue yang satu pikiran sama Dolly sebetulnya tahu inti yang disampaikan sama om kita. Ini terkait rutinitasnya yang sering pulang larut hingga lewat tengah malam. Dimana kita berdua sudah tertidur lelap, tidak ada yang membukakan gerbang. Padahal kunci gerbang sudah kita duplikatkan untuk dia.

Dua bulan lebih hidup kami ditempa tanpa ada ibu ketiga. Lama-kelamaan gue jadi terbiasa. Rutinitas cuci baju di pagi hari, berangkat kerja, pulang dan menggosok di malam hari. Ini gue lakukan karena gue enggak suka menggosok terlalu banyak. Menggosok ternyata lebih melelahkan ketimbang mencuci.

Setelah dua bulan berlalu, ada kabar kalo adek ibu ketiga yakni Fandy dan Teteh Deda mau kerja di tempat kita. Kabar ini sontak membuat kita senang. Fandy yang gue juluki Mr. Clean akan kembali bekerja di tempat kami.

Sore itu ketika gue sama Dolly ditugasi cari motor seken dekat rumah. Fandy kasih tahu kalo sudah mau nyampe. Kita suruh Fandy sama teteh langsung ke rumah. Sore itu pun mereka langsung beberes dikit.

Besok paginya, disaat mereka berdua sedang mencuci semua perlengkapan dapur, dari piring, sendok, gelas, panci dan lain-lain. Mereka kita panggil buat di briefing sama om kita. Standar lah yang dikasih tahu sama om, soal gaji, SOP dan bla bla bla. Kalo gue sama Dolly sih udah enggak ragu lagi sama Fandy karena udah tahu betul Fandy gimana orangnya.

Selesai briefing, tanpa tunggu lama, hari itu rumah langsung dibersihkan total sama mereka berdua. Cuma dalam satu hari saja saudara-saudara. Rumah langsung kinclong lagi, debu, bangkai dan nyamuk malam itu langsung hilang. Fandy memang luar biasa, seperti juru selamat buat kita, we adore you Fan.

Beberapa minggu setelah itu ada tante kita sama anak-anaknya yang lagi liburan sekolah nginap. Dia juga kaget enggak ada nyamuk sama sekali. Padahal waktu masih ada nenek beberapa bulan yang lalu sebelum kembali ke Bengkulu, banyak banget nyamuknya. Bahkan dalam keadaan pintu terbuka di malam hari, nyamuk pun enggak ada yang muncul.

Akhirnya sekarang kami hidup kembali tenang semenjak ada Fandy dan teteh di rumah. Enggak perlu cemas lagi kalo ninggalin rumah, Masakan teteh juga beda-beda tipis sama masakan ibu ketiga.

Terlepas dari beberapa tragedi besar yang gue alami. Tahun ini sebenarnya banyak juga hal-hal baik yang gue rasakan. Memasuki dunia kerja adalah salah satunya. Setelah lulus, inilah fase baru yang harus gue jalani agar dapat mencapai fase-fase lainnya yang In Sha Allah menanti.

Hal lain yang juga bikin gue senang adalah first gig Jalur Protokol. Ya, penampilan perdana kami di tahun kemarin di acara Pekan Raya Indonesia. Kami serius latihan beberapa minggu sebelumnya supaya bisa maksimal di panggung. Lagu-lagu yang bakal dibawain semuanya lagu kita sendiri.

Berkat bantuan teman-teman yang lain juga untungnya. Semua berjalan lancar, walaupun ada beberapa kendala teknis maupun non teknis sebetulnya, tapi untuk penampilan perdana boleh dibilang lumayan lah.

Dari total 6 lagu.
Kita cuma bisa mainin 5 lagu karena keterbatasan waktu.
Sebenarnya ada satu hal lagi yang mau gue tulis, tapi kayaknya itu butuh tempat sendiri untuk diceritakan. Mungkin belum saatnya juga gue ceritakan. Intinya, gue bersyukur banget selama setahun belakang, banyak pengalaman yang bisa gue ambil sebagai pelajaran. Dan semoga tahun ini, banyak hal-hal baik yang gue dapati.

Senin, 28 November 2016

Ngomong Kasar

Sekarang kayaknya udah lazim banget kita dengar anak-anak sekolah yang ngomong kasar. Bahkan mereka tidak ragu-ragu berkata di tempat umum sekalipun.

Seperti yang baru aja gue alami siang ini ketika mau makan siang di dekat sekolahan. Beberapa anak terlihat sedang merundung salah seorang temannya.

"Eh, jangan sok kecakepan lu, yang cakep aja jual diri"

Baru sekali ini gue dengar anak sekolahan ngomong kasar dengan struktur kalimat kayak gitu. Pokoknya gue betul-betul miris dengarnya.

Gue juga enggak tau mesti ngapain saat itu, anak yang dirundung sama teman-temannya ini langsung berjalan cepat meninggalkan mereka.

Oh iya, ngomong-ngomong gue jadi ingat satu kejadian waktu gue pulang kantor. Disaat lagi nungguin gojek, ada anak cewek yang dihadang dua orang anak cowok.

Dua cowok ini bermaksud malakin dia.

Cowok "bagi duit dong, dua rebu"
Cewek "enggak ada duit gue"

Lumayan lama mereka gue perhatiin, si cowok terus maksa si cewek kasih duit, tapi si cewek juga terus-terusan nolak.

Akhirnya gue samperin mereka

"Eh, kalo dia gak mau jangan maksa dong!"
Dua cowok ini langsung ngebales, "temen bang"
Terus si cewek langsung kasih duit ke mereka
WTF

Satu lagi cerita miris waktu gue mau pulang dari kantor. Gue ngeliat beberapa anak cowok lagi colek-colek anak cewek. Si cewek ini terus diikutin sama mereka sambil terus nyolek beberapa bagian tubuh si cewek.

Anak-anak cowok ini enggak tau kalo dekat situ ada ibu si cewek. Diadukanlah perbuatan tersebut, ibu si cewek langsung marah dan memaki anak-anak cowok ini.

Seperti tidak merasa bersalah, mereka pergi begitu saja. Ngeliat langsung kejadian kayak gitu, suasana hati gue langsung jadi panas. Tiba-tiba terbayang kalo seandainya itu terjadi sama keluarga atau orang yang gue sayang. Berbagai tindakan yang gue lakukan langsung terbayang di benak gue.

Benar-benar miris gue ngeliat hal kayak gini. Maunya gue sih buat semua yang baca. Yuk, kita bangun hubungan yang baik sama anak dengan tidak melakukan kekerasan.