Rabu, 31 Oktober 2012

Catatan Idul Adha

Ini adalah tahun ketiga gw merayakan Idul Adha sebagai mahasiswa, dua tahun ke belakang gw enggak pernah shalat karena bangunnya kesiangan terus, namun di tahun ke tiga ini Alhamdullillah gw berkesempatan bisa pulang dan merayakan Lebaran Haji di Bengkulu. Jumat jam 00.00 pagi gw pergi ke rumah Om gw yang deket bandara, gw nyampe jam 01.00, disana sudah ada Lia yang ketinggalan pesawat waktu Kamis sore gara-gara macet.

Jadual keberangkatan kita pagi ini jam 08.00 naik Lion, dengan sangat terpaksa gw harus melewatkan Shalat lagi untuk ketiga kalinya. Kita ke bandara jam 06.30, nyampe disana kita sarapan sop buntut yang dagingnya banyak banget, kita berdua aja enggak habis makannya. Jam 07.00 kita bording dan masuk ruang tunggu pesawat yang ternyata jadual keberangkatannya dimajuin, kita langsung masuk ke pesawat.

Di dalam kabin gw bertanya dengan pramugarinya 'kita yang terakhir ya Mbak?', diawali dengan senyuman lalu pramugarinya menjawab 'enggak kok Mas', gw langsung menghirup nafas lega dan duduk dengan tenang.

Jam 09.00 kita mendarat di Bengkulu, kita dijemput Paman gw dan langsung menuju rumah Lia, disana sudah pada ngumpul Nyokap, Bokap, Adek-adek gw, Nenek, Om, Tante dan saudara-saudara yang lain. Gw enggak lama juga disini, karena abis itu gw sekeluarga harus ke Kampung Nyokap gw di Kampai, soalnya Nyokap qurban disana.

Jam 10.30 kita sekeluarga nyampe, dirumah Kakek gw disana sudah pada rame ibu-ibu yang masak daging, ada Kakek gw juga yang ngobrol sama tamu-tamu. Idul Adha atau di daerah saya lebih familiar disebut Lebaran Haji, biasanya ditandai dengan pemotongan hewan qurban (sapi, kambing, domba, kerbau, dan unta). Hidangan utama pada saat Lebaran ini ya tentu saja daging.

Hari berikutnya gw jalan berdua sama Budi, temen-temen yang lain tak tahu rimbanya. Untuk menghemat BBM gw saranin Budi memacu kendaraannya 30 km/jam, ac sama tape juga enggak kita nyalain, cuma jendela yang kita buka dikit, alhasil kita sauna siang itu.

Sekitar jam dua kita nyampe di pantai, yang jadi tujuan kita atau lebih tepatnya gw adalah wisata kulinernya. Awalnya kita udah keluar dari mobil, tapi balik lagi karena gw ngerasa jalan dipantai pake sepatu sama celana jeans, gw tanggalkan dan tinggalkan semuanya di mobil Budi.
Enggak bugil kok.
Kita berdua berjalan menyusuri pantai, melakukan observasi terlebih dahulu, memilih tempat yang paling cocok untuk kita jadikan tempat makan. Sekitar 150 meter kita menyusuri tenda-tenda yang ada di pantai dan balik lagi ke tempat pertama kita dateng, gw mules.

Setelah menuntaskan permasalahan yang ada di perut gw, kita berdua lanjut lagi menyusuri tenda-tenda para pedagang, mencari dan terus mencari. Budi yang malu karena udah dua kali bolak-balik enggak jelas, gw ajak berjalan menyusuri pantai yang berpasir.

Sekitar setengah perjalanan kita, gw rasa tempat yang cocok buat kita berdua makan udah dekat. Kita kembali berjalan ke arah tenda para pedagang, tempatnya cukup tinggi dan mengharuskan gw melompat, gw enggak sadar kalo boxer Tanel yang gw pinjem ini udah rentan banget, dengan sekali lompatan tiba-tiba jebrettt... terdengar suara robekan, gw langsung mengintip selangkangan gw, dugaan gw ternyata benar, boxernya robek cukup lebar. Budi cuma bisa tertawa dan gw cuma bisa malu.

Setelah menaikkan posisi boxernya, gw kembali berjalan dengan kaki yang lebih rapat. Namun itu tidak sia-sia, kita nemu juga tempat yang paling pas buat kita makan. Ada banyak yang kita pesen sore itu, kelapa muda, sate ceker, jagung bakar, pisang bakar, sama opak. Tapi serius puas banget gw makannya, Budi juga sih.
Murah brai.
Tibalah hari dimana gw harus kembali meninggalkan semua orang yang gw cintai. Jadual gw pagi itu jam 09.30, sebelum ke bandara gw pamitan sama Nenek, Bokap yang ngantar ke bandara, dia cuma nganterin  doang karena harus ngantor.

Gw yang nyampe langsung check in dan masuk ruang tunggu, itu masih jam 09.00. Ternyata pesawatnya di delay sampe jam 11.45, dan lebih sialnya itu diinformasikan jam 11.00, beruntung dari pihak bandara memberi kita nasi bungkus sebagai ganti rugi atas keterlambatan pesawat.
Baru kali ini makan nasi bungkus di pesawat.
Gw duduk di sebelah perempuan berjilbab yang mukanya menurut gw mirip dengan salah satu Mahasiswa FISIP jurusan Administrasi. Banyak hal yang kita bicarakan, mulai dari rumah, kuliah sampe soal dimana dia tahu namanya Prof. Adrianus Meliala. Kita yang ngobrol panjang selama di perjalanan, baru nanya nama pas pesawat baru landing, 'oh iya, namanya siapa yah?' tanya dia ke gw, 'Ovan, kalo Mbak? balas gw, 'Irda' jawabnya. Waktu gw tahu namanya Irda gw pengen ngakak saat itu juga, tapi enggak enak sama dia, kalo aja gw tahu dari awal namanya Irda, bakalan gw foto dia dari awal, soalnya abis kenalan dia keburu jalan.
Mbak Irda.
Yang mirip Mbak Irda, gw lupa namanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar