Senin, 04 Mei 2015

Celana Bahan Hitam 50 Ribu

Akhir pekan kemaren waktu Dolly sama gw nemenin Lia ke sebuah klinik kulit di daerah Depok. Di tengah perjalanan yang begitu macet. Lia kembali meminta kami menemani dia malam nanti ke resepsi pernikahan temannya karena cowoknya udah balik ke Bandung. Dia bilang enggak dapat izin dari Ibu kalo enggak ada yang nemenin. Tinggal kita berdua jadi harapan Lia.

Gw sebenarnya pengen-pengen aja nemenin dia asal Dolly juga ikut. "Ya udah kita temenin ajalah, Dol. Enggak usah pake turun juga dari mobil" kata gw yang mencari dukungan dari Dolly yang lagi menyetir. "Iya, enggak bakalan nyampe sejam juga kakak di resepsinya nanti" tambah kak Lia dengan nada memelas. "Tapi Kak Lia inget jalannya kan?" gw mengira tempat resepsinya sama kayak waktu akadnya.

"Bukan, beda, resepsinya di Balai Sudirman sini" potong Lia. "Oh, aku kirain sama tempatnya" balas gw. Setelah tertegun agak lama, gw mengagetkan mereka berdua yang duduk di depan "Wah, Balai Sudirman yang di Tebet sini ya?" gw makin bertambah semangat nemenin Lia kondangan. "Iya, yang deket sini" balas Lia. "Fix, Dol, kita harus nemenin Kak Lia". "Lah, jadi beneran nemenin Kak Lia nih?" kata Dolly dengan nada yang agak sedikit ogah-ogahan kayaknya. "Kapan lagi Dol kita ke Balai Sudirman" balas gw yang mulai keliatan katronya.

Mulai dari situ obrolan kita selama perjalanan tiada hentinya soal wedding wedding dan wedding. Sampai diperjalanan balik lagi ke rumah pun kita masih ngobrolin soal wedding. Diantara muak dan ketidakberdayaan, gw yang beberapa kali minta ganti topik malah ujung-ujungnya balik lagi ngebahas wedding.

Seperti dari yang sudah gw sama Dolly diskusikan sewaktu di jalan, kita bakal mengenakan jas nantinya waktu acara. Sampai di rumah, masalah klasik gw tiap kali ada kondangan adalah enggak ada celana bahan. Gw hampir selalu mengenakan celana jeans dipadukan dengan batik atau kemeja. Sore itu gw niatkan beli celana di pertigaan yang mau masuk ke Joe. Anak-anak Lenteng Agung, Kebagusan sama Jagakarsa tahu banget nih letaknya.

Gw mampir dulu ke atm ngambil duit 200 ribu. Perkiraan gw harga celananya kisaran 100 s.d 150 ribu. Sampai di tkp gw mulai pilih-pilih celana. Enggak kayak cewek, gw kalo pilih-pilih barang enggak pake lama, langsung cobain celana ukuran 31 dan langsung pas. Tibalah saat pembayaran, ternyata harganya cuma 50 ribu. Dalam hati gw, kenapa enggak dari dulu gw beli kalo tahu harganya cuma segitu.

Balik ke rumah, gw langsung cari jas di lemari kamar Om gw. Hampir semua jas di lemari gw cobain sampai dapat yang pas. Ada satu jas yang pas banget sama badan gw. Persiapan gw ke Balai Sudirman akhirnya selesai.

Kita berangkat jam setengah tujuh dari rumah. Seperti yang udah gw perkirakan, Saharjo macet gara-gara nikahan di Balai Sudirman. Belum lagi cari parkirnya lama. Kita parkir di gedung parkir di sebelah gedung Panti Perwira. Kita yang baru sekali ini ke Balai Sudirman langsung turun dan masuk ke Panti Perwira walaupun kita tahu acara temannya Lia ada di Gedung Panti Prajurit. Pertimbangan kita karena masuk lewat Panti Perwira lumayan buat potong jalan. Keluar dari Panti Perwira kita bertiga ketawa-ketawa. Hitung-hitung buat tahu perbandingan dua gedung ini. Lia juga hampir diajak salaman sama keluarga pengantin yang ada di Panti Perwira.

Cerita sedikit soal yang nikah, keduanya adalah teman Lia sewaktu masih kuliah di FKUI. Dan kenapa resepsi pernikahannya di Balai Sudirman adalah karena impian dari mempelai perempuan. Lia sendiri jadi bridesmaid malam itu.

Memasuki gedung kita bisa melihat pohon-pohon sakura bermekaran, tentu itu cuma replika doang. Ruangan di dalam gedung adalah ruang nikahan paling besar selama gw datang kondangan-kondangan yang ada di Jabodetabek. Setelah menikmati dekorasi ruangan yang cukup megah, Lia pun bertemu dengan teman-temannya, sedangkan Dolly sama gw mulai memasang tatapan tajam ke arah meja-meja makan. Tentu kita berdua cuma bisa menatap doang pada saat itu karena masih nungguin Lia yang ngobrol sama teman-temannya.

Dan saat-saat perburuan makanan pun di mulai.

Selamat ya buat Fahry dan Anggi, semoga bahagia.

PS : Terima kasih buat 'Kimchi' terenak yang pernah gw makan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar